jump to navigation

SOERATIN, PENDIRI PSSI YANG TERLUPAKAN !!! 08/04/2010

Posted by joni prayoga in SEPAKBOLA.
Tags: , , , ,
7 comments

OLEH: Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI, Redaktur Pelaksana Majalah Sportif (1982-1983)

Ketika Kongres Sepak Bola Nasional digelar di Malang, 30-31 Maret 2010, adakah di antara peserta yang teringat kepada Maulwi Saelan (kini 84 tahun), yang berdiri di bawah mistar gawang PSSI dalam Olimpiade Melbourne pada 1956? Indonesia mampu menahan Uni Soviet pada babak perempat final dengan skor 0-0 pada pertandingan pertama, walaupun dalam pertandingan berikutnya kita dikalahkan. Sebelum meletus G-30-S tahun 1965, Saelan pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.

Adakah dalam kongres sepak bola itu disebut nama Soeratin, pendiri PSSI 80 tahun yang silam? Tokoh yang sangat berjasa dan namanya pernah diabadikan pada kejuaraan junior dengan memperebutkan Soeratin Cup itu ironisnya meninggal pada 1959 dalam kemiskinan, setelah sakit sekian lama dan tidak mampu menebus obat. Rumahnya berukuran 4 x 6 meter di Jalan Lombok, Bandung, terbuat dari gedek (dinding bambu). Tidak ada yang ditinggalkan kecuali organisasi yang dicintainya, PSSI. Itulah sebabnya Rapat Paripurna Nasional PSSI pada 2005 (Kep/09/Raparnas/XI/2005) merekomendasikan dan mengusulkannya kepada pemerintah agar Soeratin diangkat sebagai pahlawan nasional. Pertimbangannya adalah kehidupan Soeratin telah diabdikan bagi perintisan pengembangan sepak bola yang sejalan dengan penumbuhan jiwa kebangsaan di kalangan masyarakat sejak masa penjajahan Belanda.

Soeratin lahir di Yogyakarta, 17 Desember 1898, dari kalangan terpelajar. Ayahnya, R. Soesrosoegondo, guru pada Kweekschool, menulis buku Bausastra Bahasa Jawi. Istrinya, R.A. Srie Woelan, adik kandung Dr Soetomo, pendiri Budi Utomo. Tamat dari Koningen Wilhelmina School di Jakarta, Soeratin belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman, pada 1920 dan lulus sebagai insinyur sipil pada 1927.

Sekembalinya dari Eropa pada 1928, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konstruksi terkemuka milik Belanda dan membangun antara lain jembatan serta gedung di Tegal dan Bandung. Namun, pada waktu bersamaan, Soeratin mulai merintis pendirian sebuah organisasi sepak bola, yang bisa diwujudkan pada 1930.

Organisasi boleh dikatakan realisasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme itu dicoba dikembangkan melalui olahraga, khususnya sepak bola. Seperti halnya ipar Soeratin, Dr Soetomo, yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian disusul dengan pendirian Budi Utomo, Soeratin melakukan pertemuan dengan tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung. Pertemuan itu diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel Belanda (PID). Pada 19 April 1930, beberapa tokoh dari berbagai kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah “sepakraga” diganti dengan “sepakbola” dalam Kongres PSSI di Solo pada 1950. PSSI kemudian melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931, dan ada instruksi lisan yang diberikan kepada para pengurus, jika bertanding melawan klub Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi ini 11 kali berturut-turut. Setiap tahun ia terpilih kembali.

Kegiatan mengurus PSSI menyebabkan Soeratin keluar dari perusahaan Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menjajah Indonesia dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan Soeratin menjadi sangat sulit. Rumahnya diobrak-abrik Belanda. Ia aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat letnan kolonel. Setelah penyerahan kedaulatan, ia menjadi salah seorang pemimpin Djawatan Kereta Api.

Jasa-jasa
Olahraga sepak bola juga berkaitan dengan nasionalisme dan integrasi bangsa sebagaimana dikatakan Freek Colombijn (The Politics of Indonesian Football, Archipel 59, Paris, 2000). Sepak bola pada mulanya berkembang di Inggris dan merambah ke Hindia Belanda dengan berdirinya klub pertama di Surabaya pada 1895 oleh John Edgar. Di Kota Padang, klub yang pertama dibentuk adalah Padangsche Voetbal Club pada 1901. Klub yang ada di Hindia Belanda itu masih bersifat segregasi. Kelompok ras memiliki klub masing-masing yang juga bertanding sesama mereka (Eropa, Tionghoa, dan pribumi). Pada 1921, di Padang terdapat liga yang menarik bayaran dari penonton (10 sen untuk pribumi, menontonnya sambil berdiri; 20 sen untuk “bukan pribumi”; dan 50 sen mendapat kursi). Belum ada stadion yang permanen, tetapi di sekeliling lapangan dipasang bambu.
Dalam konteks perkembangan masyarakat yang terjajah, jasa Soeratin dapat diringkaskan sebagai berikut. Pertama, ia berani menggunakan label Indonesia pada organisasi yang didirikannya, bukan Hindia Belanda. Kedua, pertandingan yang dilakukan secara rutin dan periodik antarklub pribumi pada tingkat antarkota merupakan realisasi Sumpah Pemuda 1928 dan sekaligus bagian dari proses penumbuhan integrasi nasional (hal yang sama menjadi tujuan PON setelah Indonesia merdeka). Ketiga, tujuan organisasi persepakbolaan yang digagas dan direalisasi adalah mencapai kedudukan yang setara dengan orang-orang Eropa (juga Tionghoa). Untuk itu Soeratin rela berkorban. Ia keluar dari perusahaan konstruksi Belanda saat memegang posisi bagus agar dapat mengurus “sepak bola kebangsaan”. Pengangkatan Soeratin sebagai pahlawan nasional diharapkan menjadi momentum untuk membangkitkan kembali sepak bola di Tanah Air yang suatu ketika sempat membuat prestasi yang membanggakan.

Syarat administrasi
Meskipun sudah diusulkan PSSI pada 2005, Soeratin tidak kunjung diangkat menjadi pahlawan nasional. Pada 2006, saya bertemu dengan seorang sejarawan yang menjadi tim penilai pahlawan ini. Ternyata alasan penolakannya bersifat administratif. PSSI telah mengirim usulan yang konon didukung oleh Wali Kota Yogyakarta (kota kelahiran Soeratin) dan Wali Kota Bandung (domisili Soeratin di akhir hayatnya). Namun PSSI hanya mengirim buku PSSI Alat Perjuangan Bangsa dan brosur kecil Perjuangan Ir Soeratin Sosrosoegondo, yang diterbitkan dalam rangka peringatan 75 tahun PSSI pada April 2005. Tim penilai mengharapkan sebuah buku yang khusus ditulis untuk pencalonan pahlawan ini secara ilmiah. Pada 22 Juni 2006, saya menjadi pembicara dalam seminar di Senayan, Jakarta, untuk mendiskusikan peran Soeratin dalam persepakbolaan nasional. Sayangnya, PSSI tidak melampirkan makalah seminar ini beserta transkrip diskusi kepada tim penilai kepahlawanan nasional. Dalam kasus ini saja terlihat bahwa manajemen PSSI kurang beres.

Nyimak juga D I S I N I j u g a Y A ???!!! ūüôā

PENDIRI vs KETUA PSSI SEKARANG : MIRIS !!! 08/04/2010

Posted by joni prayoga in SEPAKBOLA.
Tags: , , , , , ,
6 comments

Bagaimana kabar persepakbolaan Indonesia? Jangan ditanya… penggila Bola di tanah air wajar bila malu dengan prestasi Tim Garuda belakangan ini…nyaris tanpa kemajuan…dan malah menukik menurun….Yap, PSSI merupakan lembaga yang paling tepat untuk bertanggung jawab, sayang sekali ketua umum PSSI, Nurdin Halid terlalu PeDe untuk memilih bertahan disusul dengan keputusan memuakkan koloninya yang meng-IYA-kan pernyataan konyol tsb.

Berikut ada sebuah artikel panjang, padat dan mengena dari seorang penulis di detiksport.comtentang perbedaan Bapak Pendiri PSSI yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan sepakbola tanah air, Ir.Soeratin dengan Nurdin yang Gila Kekuasaan….artikel ini sayang bila kawand-kawand lewatkan….!!!

=================================================================================

Ada kontras yang tak terelakkan jika membandingkan Ketua Umum PSSI pertama, Ir. Soeratin Sosrosoegondo, dengan Ketua Umum PSSI ke-14, Nurdin Halid.

Ir. Soeratin, tokoh di balik berdirinya PSSI pada 19 April 1930, memilih kehilangan pekerjaan sebagai arsitek yang memberinya pendapatan berlimpah agar bisa secara total mengurus PSSI yang baru saja berdiri.

Ketika itu Soeratin bekerja di biro rancang bangunan bernama Boukundig Bureau Sitsen en Lausade dengan gaji sekira seribu gulden per bulan. Aktivitasnya mengurus PSSI membuat kinerjanya di kantor mengendur. Kantor yang memekerjakannya memberi dua opsi: tinggalkan PSSI atau tinggalkan pekerjaan.

Ini bukan pilihan sederhana. Meninggalkan pekerjaan bukan hanya membuat Soeratin kehilangan asupan finansial bagi diri dan keluarganya, tapi juga membuat Soeratin kehilangan pasokan dana yang sebagian di antaranya digunakan untuk menopang kegiatan-kegiatannya di PSSI karena PSSI sendiri ketika itu tak bisa diharapkan memberinya pendapatan. Soeratin bisa saja melepas jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Toh, ia masih bisa membantu PSSI dengan cara yang lain.

Tapi Soeratin memilih opsi keluar dari pekerjaannya. Baginya, membangun PSSI butuh konsentrasi besar. Masih banyak persoalan yang mesti dihadapi PSSI ketika itu, dari mulai isolasi yang dilakukan NIVB hingga membangun solidaritas bond-bond sepakbola bumiputera yang (kadang-kadang) masih saling bersaing satu sama lain. Teramat sayang jika ikhtiarnya yang susah payah dalam memelopori pendirian PSSI ditinggalkan di tengah jalan.

Fragmen bersejarah yang bisa dibaca sebagai momen eksistensial bagi manusia Soeratin di atas terasa begitu kontras dengan sikap “keras kepala” Nurdin Halid untuk terus bertahan di tampuk tertinggi kepemimpinan PSSI — sikap yang anehnya didukung dengan tidak kalah keras kepalanya oleh para pengurus PSSI dan Executive Comitte PSSI.

Kontras ini makin terasa menggelikan sewaktu membaca pernyataan Nurdin Halid ketika menjawab tuntutan agar dirinya mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI.

“Atau masalah yang saya hadapi tidak ada permintaan agar saya mundur dan saya dalam keadaan didzalimi. Untuk itu, demi harga diri saya serta demi harkat dan martabat PSSI siri’ napacce. Insya Allah dengan ridho Allah saya akan bertahan memimpin PSSI,” katanya (Kompas, 21 Februari 2008).

Jika Soeratin memilih untuk keluar dari pekerjaannya agar bisa total mengurus PSSI dengan risiko kehilangan asupan gulden yang melimpah pada zamannya, Nurdin Halid justru keukeuh untuk terus duduk di jabatannya kendati nyata-nyata ia sama sekali tak bisa memimpin roda organisasi PSSI. Alih-alih bisa memimpin PSSI dengan total, Nurdin justru lebih sering “merepotkan” PSSI karena memaksa para pengurus PSSI mesti bolak-balik ke penjara, baik untuk rapat koordinasi maupun sekadar memberi laporan.

Dalam tradisi Makasar,¬†‘sirri’ bukan hal sepele. Ia merujuk pada kebanggan diri, harga diri, integritas diri sebagai manusia dan laki-laki. Jika sampai ada orang menyebut “sirri”, ia hampir dipastikan sedang berada dalam kemarahan besar, merasa integritas dirinya dikoyak moyak, harga dirinya diinjak-injak.

Persoalannya, tuntutan kepada Nurdin agar mundur itu bukan persoalan pribadi. Tuntutan yang makin kuat itu muncul sebagai persoalan organisasi, dalam hal ini PSSI, organisasi yang mengatur olahraga paling merakyat di tanah air, yang pendiriannya diusahakan dengan susah payah oleh para pendirinya.

Pernyataan Nurdin itu menggelikan karena Nurdin menyamakan harga diri dan martabat pribadi dengan harga diri dan martabat PSSI, seakan-akan jika Ketua Umum PSSI merasa pribadinya dilecehkan secara otomatis PSSI sebagai organisasi juga dilecehkan harga diri dan martabatnya.

Nurdin mungkin benar bahwa PSSI sudah kehilangan harga diri dan martabatnya, tapi bukan karena Ketua Umum-nya merasa dilecehkan, tapi karena PSSI memang sudah kehilangan integritas karena kegagalannya sendiri.

Prestasi apa yang dibanggakan PSSI selama di bawah kepemimpinan Nurdin Halid? Menang lawan Bahrain tapi kemudian kalah oleh Arab Saudi dan Korea Selatan pada Piala Asia 2007? Gagal lolos semifinal SEA Games 2007? Kalah memalukkan dari Suriah dengan agregat 11-1 dalam play-off Piala Dunia 2010?

Jika Nurdin Halid butuh contoh tentang laku mertahankan harga diri dan martabat PSSI, simak saja bagaimana Soeratin dengan sikap keras membela harga diri dan martabat PSSI dalam kasus pengiriman tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 di Prancis.

Ketika itu Hindia Belanda mengirimkan tim dari¬†Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU, organ yang merupakan metamorfosis dari NIVB) ke Prancis. Kendati sembilan pemain dalam tim itu berasal dari kalangan bumiputera dan Tionghoa, Soeratin marah bukan main karena ia menganggap NIVU melanggar¬†“Gentlement Agreemnt” yang ditandatangani PSSI (yang diwakili Soeratin) dengan NIVU (yang diwakili¬†Materbreok) pada 5 Januari 1937 yang menyebutkan bahwa pengiriman tim mesti didahului oleh pertandingan antara NIVU dengan PSSI. Soeratin juga menginginkan agar bendera yang digunakan tim Hindia Belanda bukan bendera NIVU.

Pelanggaran kesepakatan itu dinilai Soeratin sebagai pelecehan atas martabat PSSI. Itulah sebabnya Soeratin, atas nama PSSI, membatalkan secara sepihak semua butir kesepakatan antara PSSI dengan NIVU pada Kongres PSSI 1938 di Solo.

Pada kongres itulah Soeratin membacakan pidato berjudul “Loekisan Djiwa PSSI: Mendidik Ra’jat dengan Perantaraan Voetbalsport”, pidato yang menjadi cetak biru visi PSSI pada masa kolonial, pidato yang sepertinya tak pernah dibaca oleh Nurdin Halid dan para pengurus PSSI sekarang.

Salah satu kalimat Soeratin yang paling termasyhur –seperti diceritakan Maladi– berbunyi: “Kalau di lapangan sepakbola kita bisa mengalahkan Belanda, kelak di lapangan politik pun kita bisa mengalahkan Belanda.”

Nasionalisme dan politik pada masa itu menjadi bagian inheren dari PSSI. Jangan heran jika, misalnya, panitia kejuaraan PSSI II pada 1932 yang digelar di lapangan Laan Travelli, Batavia, nekad mengundang Soekarno untuk melakukan tendangan bola kehormatan pada partai final kejuaraan yang memertemukan VIJ (Voetball Indonesia Jcatra) melawan PSIM Yogyakarta.

Tindakan itu berkadar subversif karena Soekarno baru saja keluar dari penjara Sukamiskin di Bandung akibat aktivitasnya sebagai pemimpin Partai Nasional Indonesia.

Zaman sudah berubah. Politik memang sebaiknya tidak dibawa-bawa dalam dunia sepakbola (FIFA melarang intervensi pemerintah terhadap asosiasi sepakbola, kendati lucunya pengurus PSSI sempat membawa-bawa UU Pemilu untuk membenarkan sikap Nurdin). Tetapi, cukup jelas juga, perkara harga diri dan martabat pribadi tak bisa dibawa-bawa ke dalam urusan sepakbola dan PSSI.

Nurdin dan segenap pengurus PSSI mesti berkaca kepada apa yang sudah dicontohkan Soeratin. Saya tidak tahu apakah LP Cipinang menyediakan cermin di setiap sel tahanan atau tidak  (SUMBER: detiksport.com)

=================================================================================

“Majulah Persepakbolaan Indonesia…”