jump to navigation

SEJARAH & PENEMU REMOTE TELEVISI 10/09/2010

Posted by joni prayoga in ISENG tak BERHADIAH.
Tags: , , , , , , , , , ,
4 comments

Sekarang ini televisi udah nggak di monopoli TVRI lagi bro, alias multichanel, jadi orang-orang demokratis dalam memilih chanel kesukaan mereka. Hal ini yang menyebabkan timbulnya ide pembuatan remote televisi, memberi kenyamanan bagi pemirsa untuk gonta-ganti chanel (emangnya betah terus-terusan ganti chanel pake jempol kaki?hehe…). Ada seorang teman nih yang curhat katanya gak bisa nonton TV gara-gara remote-nya rusak…What??? yang rusak sebenarnya Remote atau Mata ya? Sampe gak bisa nonton..hehe…NAH, hal ini yang membuat saya tertarik memposting Remote TV, pengen tau sejarah penemuan n penemu barang yang membuat penilaian chanel televisi berada di ujung jari penonton…. hehe Cekidot!!!

SEJARAH REMOTE TELEVISI

Remote Televisi dikembangkan pertama kali oleh Zenith Radio Corp tahun 1950, “Lazy Bones”–merk dagang pertama remote tersebut– dengan lagu iklan “Prest-o! Change-O! Just Press a Button… to Change a Stasiun” dalam pengoperasiannya masih menggunakan kabel yang dihubungkan dengan TV. Inovasi ini kurang mendapat sambutan dari konsumen pada saat itu berhubung kabel yang menjulur antara remote dan TV sering mengakibatkan kaki tersandung (tersandung ato tersanjung ya? Hehe).

Tahun 1955 Zenith menghilangkan kabel dan menggantinya dengan teknologi cahaya (Flashmatic), dimana seberkas cahaya/sinar dipancarkan dari modul remote untuk mengendalikan sel photo yang terdapat pada TV. Sayangnya sel foto pada TV kurang bisa mengenali mana cahaya yang datang dari remote dan cahaya yang datang dari sumber lainnya, sehingga terkadang ketika ada terkena lampu ruangan/sinar matahari, saluran ato volume pada TV dapat berpindah dengan sendirinya.

Tahun 1956 Robert Adler mengembangkan teknologi baru dengan gelombang ultrasonik (Space commands). Pada modul remote terdapat piezoelektrik penghasil gelombang ultrasonik, sedangkan pada TV tertanam mikrofon yang telah di tune pada frekuensi yang sama. Banyak keluhan dari konsumen bahwa gelombang yang dihasilkan dari remote tersebut mengganggu binatang peliharaan terutama anjing. Kemudian saluran atau volume dapat berpindah sendiri bila ada frekuensi dari alat lain yang senada dengan frekuensi pada TV. Pada dasarnya teknologi ini rentan akan interferensi frekuensi.

Penggunaan remote control semakin rumit ketika pada tahun 1970 BBC memperkenalkan moda teletext dengan merk dagang Ceefax pada dunia siaran komersial TV. Teletext membutuhkan teknologi yang dapat menginput data biner pada TV, tidak hanya pemindahan saluran dan volume seperti halnya remote TV terdahulu. Kita di Indonesia juga sempat mengenal teletext pada medio 90-an namun tidak berlangsung lama. Sistem awal Ceefax teletext sendiri masih bergantung pada kabel karena saat itu belum ada teknolgi nirkabel yang mumpuni bagi moda teletext.

Baru pada 1977, ITT mengembangkan teknologi remote control menggunakan sinar infra merah. Sistem ini masih terus digunakan sampai saat ini dan ITT protocol menjadi sistem standar bagi penggunaan bentuk telekomunikasi yang menggunakan sinar inframerah.

PENEMU REMOTE TELEVISI

Bicara tentang remote TV, tak mungkin melupakan jasa seorang ahli fisika bernama Robert Adler. Dialah orang yang berjasa menciptakan alat yang bukan saja membuat praktis dalam menonton televisi, tapi juga mempengaruhi peradaban umat manusia. Remote control temuan Adler diperkenalkan setengah abad silam, tepatnya pada tahun 1956, saat ia menjabat Direktur Riset Zenith Electronics, produsen televisi AS. Remote control bernama Space Command itu lahir ketika bangsa AS memasuki era emas pertelevisian, ketika fungsi televisi mengalami perubahan dari semula barang luks (mewah) menjadi sumber informasi dan hiburan masyarakat.

Memang, ketika pertama diluncurkan, Space Command tergolong bukan gadget yang “nyaman” jika diukur dengan standar zaman sekarang. Bagaimana tidak, beratnya saja hampir 1 kg (sekitar 8 ons), sementara harganya yang mencapai 100 dolar AS kala itu, setara dengan sepertiga harga pesawat televisi. Namun demikian, temuan remote control Space Command tercatat sebagai state of the art dan puncak penampilan dari sebuah pencarian yang panjang.

Harus diakui pula, Robert Adler bukanlah orang pertama yang menemukan remote control. Lebih tepat ia sebagai penyempurna atas temuan sebelumnya yang juga diluncurkan oleh Zenith dengan berbagai macam kelemahan.

Di sinilah konsep remote control Adler masuk. Berbeda dengan prinsip kerja remote hasil gagasan Polley, remote control Adler yang diberi nama Space Command menggunakan ultrasonik atau suara frekwensi tinggi yang dihasilkan dengan cara menekan tombol yang terbuat dari lempengan aluminium tipis. Alat ini tak butuh baterai dan dikenal sebagai “the clickers” karena tidak berisik. Kampanye atau promosinya cukup menarik, “Nothing between You and The Set, but Space” (Tak ada apapun antara Anda dan pesawat televisi, kecuali Space (ruang).” Remote ini dengan cepat menggantikan Flashmatic dan teknologi ini menjadi standar industri pertelevisian hingga tahun 1980-an, ketika sinyal infra merah menjadi standar remote yang baru. Siapa Robert Adler?

Robert Adler lahir di Wina pada tanggal 4 Desember 1913 dari sebuah keluarga kelas menengah yang mapan dari Austria. Ibunya adalah seorang dokter dan ayahnya ahli sosiologi. Setelah mendapat gelar PhD dalam bidang fisika dari Universitas Wina tahun 1937—saat NAZI menganeksasi Austria—ia kemudian berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, mulai dari Belgia, Inggris hingga akhirnya ke AS pada tahun 1941. Ia langsung bergabung dengan Zenith Electronics di Chicago, yang memberinya keleluasaan mengejar projek apa pun yang dia inginkan.

robert adler, zenith space command

Selama PD II Adler bekerja pada bagian oskilator frekuensi tinggi dan filter elektro mekanik radio pesawat terbang. Usai PD II ia meneruskan pekerjaan pada teknologi televisi, di mana ia mampu menemukan sejumlah peralatan dan berjasa dalam revolusi petelevisian. Adler memelopori penggunaan teknologi penggunaan tabung hampa udara bercahaya yang meningkatkan kualitas transmisi audio televisi. Ia juga menjadi pelopor dalam pengembangan teknologi gelombang akustik permulaan yang menjadi dasar bagi pengembangan teknologi layar sentuh (touch screen).

Dalam kiprahnya selama 60 tahun di Zenith, mulai dari sebagai direktur riset dan menjadi konsultan lepas setelah ia pensiun pada tahun 1979, Adler telah mengantongi lebih dari 180 paten. Meskipun remote control adalah puncak temuan yang mengantarkannya pada ketenaran, ia mengaku bangga atas temuan lainnya.

Atas kerja keras dan prestasinya, berbagai penghargaan pun dianugerahkan kepada Adler. Atas temuan remote control Space Command, Adler menerima anugerah Outstanding Technical Achievement Award 1958 dari Institute of Radio Engineers atau sekarang dikenal dengan the Institute of Electronical and Electronics Engineerra (IEEE). Adler juga menerima anugerah dari IEEE berupa Outstanding Technical Paper Award tahun 1974, atas tulisannya berjudul “An Optical Video Dsc Player for NTSC Receivers”, yang merupakan presentasi awal atas kerjanya, yang kemudian dikenal dengan video cakram digital (digital video disc, DVD). Penghargaan lainnya adalah Edison Medal 1980 dan Ultrasonic Achievement 1981. Edison Medal adalah penghargaan tahunan yang diberikan kepada orang dalam kariernya berjasa dalam ilmu kelistrikan, rekayasa listrik, dan seni listrik.

Berkaitan dengan televisi dan remote control, ada yang unik dalam diri Adler. Di rumahnya ia hanya punya tiga remote control lebih sedikit dari jumlah remote control yang ada di rumah keluarga AS, yang rata-rata memiliki sedikitnya empat remote control. Soal televisi, saat bicara pada The Chicago Tribune pada tahun 1996, Adler berkata, “Aku hampir tak pernah menyalakan televisi dan berselancar channel (dengan remote control)”. Adler meninggal dunia di Idaho, AS, pada 15 Februari 2007 atau dua pekan setelah permohonan patennya yang terakhir mengenai teknologi touch screen (layar sentuh) disetujui Kantor Paten dan Merek Dagang AS 1 Februari 2007.

Sumber:
www.kaskus.us
sejarah-penemu.blogspot.com
asiaaudiovisualrb09agisuseno.wordpress.com

Sejarah dan Kontroversi SUMPIT 23/08/2010

Posted by joni prayoga in ISENG tak BERHADIAH.
Tags: , , , , , , ,
13 comments

Di dunia ini, ada banyak jenis alat yang digunakan orang untuk membantu menikmati makanan. Ada yang pakai sendok dan garpu, ada juga dengan garpu dan pisau, ada yang pakai Shinta dan Jojo..Lho??? ada yang bertelanjang tangan dan ada juga dengan menggunakan Sumpit. Apaan sih Sumpit?? (Bukan ‘Sumpriiit’ lho???)

Sumpit dan Sejarahnya
Sumpit merupakan alat bantu makan yang umumnya terbuat dari bilah bambu sepanjang kira-kira 25 cm. Bagian ujung sumpit berbentuk lingkaran berdjameter sekitar 0,5 cm. Bentuk seperti ini dimaksudkan agar orang mudah menjepit makanan.


Sumpit dikenal di Cina sekitar 5.000 tahun lalu, namun baru dimasyarakatkan sejak zaman dinasti Shang (1766 -1122 SM). Digunakannya sumpit bermula dari kebiasaan orang memasak di zaman dulu. Untuk mengaduk makanan yang diolah dalam sebuah kuali besar, mereka menggunakan ranting pohon yang bercabang dua. Lama-kelamaan, berhubung populasi penduduk makin meningkat, maka makanan itu dipotong kecil-kecil. Sehingga alat pemegang dan pengaduknya pun berupa bilah-bilah yang lebih kecil. Sumpit Cina disebut kuai-zi. Biasanya memiliki panjang 22 -26 cm dengan bangian atas berbentuk segiempat berujung tumpul. Sekitar tahun 500 sumpit digunakan secara luas di Cina, menyebar ke Vietnam, Korea, dan Jepang.
Di Jepang sumpit digunakan pada upacara keagamaan untuk menjepit makanan. Sumpit itu dibuat dari satu batang bambu yang bagian atasnya masih menyatu. Baru pada abad ke-10 dibuat dari dua bilah batang yang terpisah. Rancangan sumpit Jepang agak berbeda dengan Cina. Bagian atas sumpit Jepang agak bulat dan meruncing pada ujungnya. Ukurannya pun lebih pendek dari sumpit Cina. Bahkan ada aturan sendiri untuk memakainya, berdasarkan jenis kelamin. Sumpit untuk wanita berukuran sekitar 17,5 cm dan untuk pria sekitar 20 cm. Secara tradisional, sumpit terbuat dari berjenis-jenis baban. Bambu merupakan bahan yang paling populer karena berbagai pertimbangan, seperti harga murah, tersedia di mana-mana, mudah dibentuk, tahan panas, dan tidak mengubah rasa makanan. Bahan lainnya kayu cedar, cendana, jati, cemara, dan tulang. Bahkan orang kaya membuat sumpit dari batu giok, emas, perak, perunggu, kuningan, batu akik, batu koral, atau gading gajah. Pada masa pemerintahan para dinasti di Cina, sumpit berbahan perak banyak digunakan. orang purba percaya bahwa perak akan berubah warna jika bersinggungan dengan makanan beracun. Jadi, ini merupakan langkah kewaspadaan yang dilakukan para bangsawan Cina tempo dulu untuk menghindari usaha pembunuhan dari para pengkhianat atau lawan politik. Penggunaan sumpit secara luas tidak lepas dari peranan Konfusius (551 -479 SM). Sebagai seorang vegetarian, makan dengan pisau di atas meja sebagaimana orang Barat akan mengingatkan orang pada rumah jagal hewan. Maka dia menganjurkan orang agar menggunakan sumpit saja.Di Cina sumpit tidak sekadar alat bersantap, tapi mengandung nilai, etiket, dan filosofi.
Banyak pakar menilai, pemakai sumpit akan memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Bahkan sumpit dianggap sebagai perlambang kesetaraan, keharmonisan, dan persatuan. Sepasang sumpit harus setara, sama tingginya. Kalau tidak, akan pincang sehingga menyulitkan orang saat mengambil makanan. Gerak sumpit harus harmonis. Bagaimana jadinya jika sebuah sumpit digerakkan ke depan, satunya lagi ke belakang? Tentu makanan tidak akan terjepit. Sepasang sumpit pun harus bersatu. Tidak mungkin orang hanya menggunakan sebuah sumpit ketika mengambil makanan. Jika bersatu, barulah orang dapat leluasa mengambil makanan.

Kontroversi Sumpit di Cina
Akan tetapi dewasa ini Pemerintah Cina rupanya sudah gencar mengampanyekan pelarangan sumpit sekali pakai yang terbuat dari bambu dan kayu karena dinilai merusak lingkungan. China telah berkali-kali mengalami banjir besar dan tanah longsor. Soal sumpit ini menjadi urusan Kementerian Perdagangan China bersama dengan enam kementerian lainnya. Perusahaan yang masih memproduksi sumpit sekali pakai akan mendapatkan hambatan dan larangan dari pemerintah setempat.


Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,3 miliar jiwa, China setiap tahun membuang 45 miliar pasang sumpit atau sekitar 130 juta pasang sumpit per hari. Pegiat lingkungan, Greenpeace China, memperkirakan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, harus tersedia 100 are lahan pohon bambu yang harus diperbarui setiap 24 jam. Bayangkan saja, hutan yang lebih luas dari lapangan Tiananmen atau setara 100 lapangan sepak bola harus dikorbankan setiap hari hanya untuk menyediakan sumpit
Penggundulan hutan merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi Pemerintah China saat ini. Pemerintah telah meluncurkan kampanye ”Bawa Sendiri Sumpitmu”. Namun, tampaknya sungguh sulit menghilangkan kebiasaan menggunakan sumpit sekali pakai ini antara lain karena lebih murah dibandingkan biaya pencucian untuk sumpit besi atau plastik yang dapat digunakan berulang kali.

Wow…ternyata gede banget ya dampak penggunaan sumpit ya kawand…?

Mari bersama-sama selamatkan Bumi kita 😀

SUMBER:

http://spagiari.blogspot.com
http://www.strov.co.cc

Waspada,,,MACET merubah kita menjadi ‘TIKUS’ !!! 08/07/2010

Posted by joni prayoga in ISENG tak BERHADIAH.
Tags: , , , , ,
4 comments

Woooiiiiiiit… tenang kawand..!!! Jangan langsung berkeringat dingin dan muntah-muntah setelah membaca judul diatas… 😀

Yap, tarik nafas…..tahan sebentar….lalu keluarkan….. Tarik nafas lagi…..tahan….lalu mari kita mulai membaca (nafas ditahan sampai selese baca ya?hehe 🙂 ).

Topik kita hari ini (haiiiissss….) adalah MACET dan TIKUS…. lho apa hubungannya kawan? Tenang nanti pasti tau sendiri.

Kemacetan memang masalah yang sudah lumrah di kota-kota besar di Indonesia, banyak yang tidak senang karena tentu saja berpengaruh pada mobilisasi di jalanan, tapi tak banyak juga (sedikit-red) yang senang karena ada temen yang dapat jodoh gara2 macet lho?hihihihihi…. Kalau di daerah saya (Denpasar) sih kemacetan biasanya ada jadwalnya, misal pagi-pagi sekitar jam7 (katanya sih, soalnya saya belum bangun,,hehe) karena anak-anak sekolahan, Ibu/Bapak PNS, serta pedagang-pedangang yg percaya dengan mitos ‘rejeki dipatok ayam’ bakalan berlomba-lomba memenuhi jalanan, lalu siang sekitar jam2an (katanya juga sih, soalnya saya lagi tidur siang,,hehe) ya jelaslah karena mereka tersebut diatas dengan muka sumringah pulang kerumah masing2 dan beberapa pegawai juga lagi asik mencari makan siang mereka, terakhir sore jam 5an (Oke deh, kali ini saya tahu, memahami, dan ikut menikmatinya) karena dijam-jam ini para pegawe kantoran yang rata-rata punya mobil bakalan menjejali diri di jalanan lalu membunyikan klakson ‘taaat…teeeet….taaat….teeeet….‘ layaknya konvoi partai politik. Jadwal diatas juga bisa berubah sewaktu-waktu kayak bioskop, misalnya malam minggu, malam jumat atau ma’lam pir….hihihihihihi…. Dan cuma 1 pelajaran yang bisa saya simpulkan dari kemacetan ini kawand,,,, bahwasanya Kemacetan disebabkan oleh bertambahnya jumlah kendaraan bermotor, bukannya gara-gara jalan yang menyempit teman….ya iyalah….


sumber:http://balirc.com


http://capjempol.files.wordpress.com

Nah sekarang mari kita hubungkan MACET dengan TIKUS. Orang-orang yang sudah terbiasa dengan kemacetan pada berbagai level bakal tau dan kenal baik dengan yang namanya ‘Jalan Tikus’. Yap menurut Wikipedia Indonesia, Jalan Tikus adalah istilah yang digunakan untuk jalan tembus yang melewati jalan lingkungan yang kecil guna menghindari ruas jalan yang macet, ataupun menghindari persimpangan/lampu lalu lintas yang macet, mereka melewati jalan tikus ini kadang harus mengkompensasi polisi tidur atau hambatan lain yang ditempatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar jalan tikus tersebut. Intinya sih jalan tikus ini merupakan jalan kecil, kadang berkelok-kelok dan biasanya digunakan untuk menghindari kemacetan atopun memotong jalan.

sumber: http://id.wikipedia.org

sumber: http://i34.photobucket.com

Bagaimana sih caranya kita mempelajari jalan tikus? males juga kan kalo kena macet terus-terusan… Khusus bagi pengguna sepeda motor ataupun sepeda gayung, menurut saya cara yang paling efektif adalah learning by doing,,, jika punya waktu luang dijalanan ataupun berangkat ke suatu tempat kepagian, maka gak ada salahnya kita nyoba menjelajah jalan-jalan kecil yang belum pernah kita lalui, dengan begitu saat terkena macet kita pun dapat beraksi… Sedangkan menurut blog’s tetangga (edratna.wordpress.com), “Pengetahuan jalan tikus, selain harus berani mencoba, biasanya saya peroleh jika naik taksi, atau naik bajay. Merekalah orang yang tiap hari berada di jalanan, serta tak tergantung pada rute jalan, sehingga lebih mudah mencari alternatif jalan”.

“Oke deh, sepertinya sekian tulisan saya yang gak mutu ini 🙂 mudah-mudahan bisa membangkitkan emosi teman-teman semua,,,hehe”

“Lalu bila kita dihadapkan pada dua pilihan, menghentikan tingkat kemacetan…atau terus-terusan menjadi Tikus yang lalu lalang di jalan Tikus? yang mana yang bijak untuk kita pilih?”

Sumber :
http://edratna.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_tikus

Maskot Piala Dunia dari Masa ke Masa 04/07/2010

Posted by joni prayoga in SEPAKBOLA.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,
4 comments

Piala Dunia dan Maskot, adalah dua hal yang gak bisa dipisahkan satu sama lain… Maskot gak bakal ada kalo gak ada Piala Dunia (ya iyalah…) dan Piala Dunia gak akan berlangsung tanpa adanya Maskot (ah masa ya?…sotoy abis…he). Maskot PD ini adalah perwujudan yang menggambarkan identitas dari si-negara penyelenggara turnamen. Bayangkan deh, kalo Indonesia jadi tuan rumah, pasti logonya Garuda…kereeen…ato mungkin Si-Unyil, ato bisa jadi Si-Komo?yah…sayangnya itu cuma harapan yang tak kunjung terealisasi..

Sebenarnya dari kapan sih trend maskot Piala Dunia berlangsung? nie dia sejarahnya bung….

1. Inggris 1966 – World Cup Willy

Seekor Singa yang merupakan simbol tipikal dari Kerajaan Inggris mengenakan kaos Union Jack dengan kata “WORLD CUP”. Willy juga menjadi subyek dari lagu Piala Dunia saat itu dan penjualan merchandise yang tidak terhitung jumlahnya, dan berhasil mendampingi The Three Lion memenangkan Pialaa Dunia untuk pertama kalinya.

2. Meksiko 1970 – Juanito

Seorang anak laki-laki mengenakan seragam Meksiko dan sebuah topi Sombrero (dengan kata-kata “MEXICO 70”). Namanya merupakan nama kecil dari “Juan”, sebuah nama umum dalam bahasa Spanyol.

3. Jerman Barat 1974 – Tip and Tap

Dua anak laki-laki menggunakan seragam Jerman yang bertuliskan WM yang berarti weltmeisterschaft/piala dunia dan angka 74 yang menunjukkan tahun 1974. Jerman saat itu keluar sebagai juara dengan mengalahkan Belanda di final.

4. Argentina 1978 – Gauchito

Lagi-lagi anak kecil, itulah yang terjadi saat maskot Piala Dunia Argentina ’78 diluncurkan. Tidak jauh berbeda dengan Maskot Meskiko, Juanito di tahun 1970, Gauchito juga memakai kostum Timnas tuan rumah, yaitu biru putih khas Argentina dengan topi bertuliskan Argentina ‘78. Aksesoris syal dan cambuk yang menjadi khas gauchos sangat mewakili wilayah Amerika Selatan.

5. Spanyol 1982 – Naranjito

Berbeda dengan maskot Piala Dunia tahun sebelumnya, Spanyol menggunakan sebuah jeruk yang merupakan buah khas di negara matador sebagai maskot. Ia memakai seragam Spanyol. Nama Naranjito berasal dari kata Naranja yang berarti bahasa Spanyol dari jeruk dan Ito yang berarti pengecil.

6. Pique, Meksiko 1986

Bila pada tahun 1970 Meksiko memakai Juanito, maka pada 1986 cabai jalapeno menjadi pilihan Meksiko. Jalapeno merupakan bahan wajib untuk kebanyakan masakan Meksiko dengan memakai kumis. Maskot Meksiko kali ini juga mengenakan sombrero. Nama Pique berasal dari picante, sebutan dalam bahasa Spanyol untuk paprika dan saus pedas.

7. Italia 1990 – Ciao

Negeri Pizza memakai seorang pemain stick figure (batang-batang yang tersusun menyerupai pemain bola) dengan kepala bola dan tubuhnya bewarna bendera Italia. Namanya merupakan sapaan dalam bahasa Italia.

8. United States 1994 – Striker

United States memilih Maskot berupa seekor anjing, yang merupakan binatang peliharaan yang populer di Amerika Serikat. Dengan memakai seragam berwarna merah, putih dan biru bertuliskan USA 94, Amerika memberi nama maskot mereka Striker.

9. Prancis 1998 – Footix

Seekor ayam jantan, salah satu simbol nasional Prancis, dengan kata-kata France 98 di dadanya menjadi maskot yang mewakili Piala Dunia 1998 di Prancis. Tubuhnya sebagian besar berwarna biru seperti kostum Timnas Prancis yang juga berwarna biru. Namanya berasal dari penggabungan kata “football” dan akhiran “-ix” yang diambil dari kata Asterix, komik strip yang terkenal terbitan Prancis. Sebelumnya nama “Raffy”, ‘Houpi” dan “Gallik” sempat diusulkan, namun nama Footix lebih disukai karena memberi keberuntungan, terbukti Prancis keluar menjadi juara Piala DUnia setelah secara mengejutkan berhasil membantai Brazil 3-0 di final.

10. Korea Japan 2002 – Ato, Kaz and Nik (The Spheriks)


Negeri Ginseng dan Samurai terkenal dengan teknologiny, begitu juga dengan maskot yang dihasilkan dari rekayasa komputer dengan warna orange, ungu dan biru yang sungguh futuristik. Mereka adalah anggota tim dari “Atmoball” (olahraga sepak bola fiksi), Ato adalah pelatih sementara KAZ dan Nik adalah pemain. Tiga nama dari masing-masing karakter dipilih dari polling pengguna Internet dan di outlet McDonald di negara-negara tuan rumah.

11.Jerman 2006 – Goleo VI dan Pille

Singa kembali menjadi Maskot Piala Dunia pilihan kali ini. Di tahun 2006, Jerman menggunakan Maskot singa yang mengenakan kostum Jerman dengan nomor 06 dan diberi nama Pille. Goleo adalah gabungan dari kata “goal” dan “leo”, kata Latin untuk singa. Di Jerman, “Pille” adalah istilah bahasa sehari-hari untuk sepak bola.

12. Afrika Selatan 2010 – Zakumi

Zakumi adalah nama maskot Piala Dunia 2010 yang akan digelar di Afrika Selatan. Zakumi adalah seekor macan tutul dengan rambut nyentrik berwarna hijau, Zakumi lahir tanggal 16 Juni 1994 yang bertepatan dengan hari pemuda di Afrika Selatan. Pada tahun 2010 Zakumi akan berusia 16 tahun, yang akan dirayakan secara global dengan tajuk piala dunia 2010. Arti dari nama Zakumi amat dalam yaitu persatuan Afrika Selatan. Nama Zakumi berasal dari kata “Za”, kode untuk Afrika Selatan, dan “kumi”, sebuah kata yang berarti sepuluh dalam berbagai bahasa Afrika. Zakumi mengenakan kostum hijau dan kuning (emas), yang juga menjadi warna dominasi seragam tim Afrika Selatan

sumber :
www.gugling.com
www.seputar-pialadunia.co.cc
www.wikipedia.org

SEJARAH TRAFFIC LIGHT 02/05/2010

Posted by joni prayoga in ISENG tak BERHADIAH.
Tags: , , , , , , , , ,
11 comments

Lanjutan dari artikel Sejarah Kartu Kuning dan Merah kemarin nie, ternyata inspirasi kartu merah dan kartu kuning datangnya dari lampu traffic light LHO??? Nah, sekarang saatnya kita tahu bagaimana sejarah Traffic Light atau lampu lalu-lintas atau juga lebih dikenal dengan lampu merah-kuning-hijau dilangit yang biru, yang membantu pak polisi mengatur kendaraan di jalanan..OKE deh…. cekidoth…!!!

Lampu lalu lintas digunakan sebelum adanya kendaraan bermotor. Pada tahun 1868, di Inggris, insinyur JP Knight menemukan lampu lalu lintas pertama, lentera merah dan hijau dengan sinyal. Itu dipasang di persimpangan George dan Jembatan Jalan di depan British House of Commons untuk mengontrol aliran kereta kuda dan pejalan kaki.

Pengatur lalu lintas untuk kendaraan bermotor diperkenalkan  di Amerika Serikat pada akhir 1890-an dan kebutuhan untuk kontrol lalu lintas segera menjadi jelas. Sejumlah orang datang dengan ide-ide untuk pengendalian lalu lintas. Pada tahun 1910, Earnest Sirrine Chicago, Illinois mengajukan paten untuk sesuatu yang dianggap pertama sistem lalu lintas jalan otomatis, menggunakan kata-kata yang tidak diterangi STOP (berhenti) dan MOVE (melanjutkan).

Pada tahun 1912, Lester Wire dari Salt Lake City, Utah menemukan lampu lalu lintas listrik dengan menggunakan lampu merah dan hijau. Namun, ia tidak mengajukan paten. Tahun berikutnya, James Hoge menerima hak paten nomor 1.251.666 untuk sistem lampu lalu lintas dengan kontrol manual menggunakan lampu listrik, dipasang di Cleveland, Ohio pada tahun 1914, masih menampilkan kata-kata STOP dan MOVE.

Sedangkan sistem lampu lalu lintas pertama menggunakan lampu merah dan hijau dipatenkan oleh William Ghiglieri San Francisco, California pada 1917 dengan Rancangan yang dapat dioperasikan secara manual atau otomatis.

Cahaya yang kuning ditambahkan pada tahun 1920 oleh William Potts, seorang polisi Detroit. Dia benar-benar menemukan beberapa sistem lampu lalu lintas, termasuk cara menggantung empat sistem, akan tetapi tidak dipatenkan.

(Garreth Augustus Morgan)

Orang pertama untuk mengajukan permohonan paten dan yang paling terkenal dalam memproduksi lampu lalu lintas adalah Garrett Augustus Morgan, yang menerima paten pada tahun 1923. Awal penemuan ini diawali ketika suatu hari ia melihat tabrakan antara mobil dan kereta kuda. Kemudian ia berpikir bagaimana cara menemukan suatu pengatur lalu lintas yang lebih aman dan efektif. Sebenarnya ketika itu telah ada sistem perngaturan lalu lintas dengan sinyal STOP dan GO. Sinyal lampu ini pernah digunakan di London pada tahun 1863. Namun, pada penggunaannya sinyal lampu ini tiba-tiba meledak, sehingga tidak dipergunakan lagi. Morgan juga merasa sinyal stop dan go memiliki kelemahan, yaitu tidak adanya interval waktu bagi pengguna jalan sehingga masih banyak terjadi kecelakaan. Penemuan Morgan ini memiliki kontribusi yang cukup besar bagi pengaturan lalu lintas, ia menciptakan lampu lalu lintas berbentuk huruf T. Lampu ini terdiri dari tiga lampu, yaitu sinyal stop (ditandai dengan lampu merah), go (lampu hijau), posisi stop (lampu kuning). Lampu kuning inilah yang memberikan interval waktu untuk mulai berjalan atau mulai berhenti. Lampu kuning juga memberi kesempatan untuk berhenti dan berjalan secara perlahan.

Nah, sudah terjawab kan sejarah sebuah TRAFFIC LIGHT yang terdiri dari tiga lampu MERAH=berhenti, KUNING=hati-hati, dan HIJAU=jalan… Tapi seiring perkembangan jaman, fungsi lampu kuning menjadi berubah teman, dari hati-hati menjadi cepaaat !!! atau Ngebbuuuut !!! (biar nggak kena Lampu merah kayaknya) hehehe dasar manusia jaman sekarang….

Oke deh akhir kata mari tingkatkan disiplin ber Lalu Lintas dan semoga bermanfaat artikelnya 😀

Sumber :

kaskus.us
wikipedia.org

RonaLdo (vs) Messi 12/04/2010

Posted by joni prayoga in SEPAKBOLA.
Tags: , , , , , ,
26 comments

Siapa yang tak kenal Christiano Ronaldo atau Lionel Messi? Sama-sama penyerang, cepat dan memiliki naluri tajam dalam mencetak GOAL!!! Sebuah studi yang dilakukan oleh Fakultas Ilmu Olah Raga dari Universitas Coruna Spanyol terhadap dua pemain terbaik dunia ini, dan kesimpulannya menyebutkan Ronaldo lebih individualis ketimbang Messi. KOK BISA boSS…???

Ketua penelitian Rafael Martin Steel menyebutkan lebih dari 80 persen umpan yang dilakukan para pemain Barcelona melibatkan Messi, 22 tahun. Sementara dalam kasus Ronaldo, kapten Tim Nasional Portugal itu hanya terlibat 60 persen dalam passingantar sesama pemain Real Madrid. Menurut data tersebut, terlihat bahwa Ronaldo, 25 tahun, lebih individualistis daripada Messi yang terlihat lebih kolektif.

Keterlibatan dua pemain terbaik dunia itu dalam soal umpan dinilai Rafael, karena Madrid dan Barcelona menganut permainan penyerang. Sehingga bola cenderung mengalir dan melibatkan kedua pemain berpengaruh ditimnya masing-masing itu.

Menurut Rafael, dua tim besar Spanyol itu memliki ketergantungan terhadap mereka. Mereka bintang, mereka dapat mengejutkan dunia perihal kecepatan, pengontrolan bola dan menjelma menjadi “senjata” andalan kedua tim.

Data lain dari penelitian itu juga menyebutkan, keduanya bergerak dengan kecepatan  5,07 meter per detik. Namun perbedaannya Messi menggiring (atau menyentuh) bola (dribbling) lebih banyak ketimbang Ronaldo.

Frekuensi Ronaldo menyentuh bola kala driblling lebih sedikit, karena mantan pemain Manchester United ini cenderung mendorong bola ke depan dan mengandalkan kecepatan larinya.

Jika menghadapi situasi bola mati, kecepatan tendangan Ronaldo lebih unggul dibanding Messi.

Menurut data penelitian itu, kecepatan tendangan Ronaldo mencapai 119 kilometer per jam, sementara Messi hanya 95 kilometer per jam.

Namun penelitian itu tidak mencantumkan “cacat” pemain sekelas Ronaldo dan Messi. “Kami belum mencari. Tapi sangat sulit menemukannya,” kata Rafael yang mengatakan keduanya sama-sama baik.

Penelitian dilakukan melalui pengolahan data yang disediakan oleh perusahaan sepak bola statistik terapan dan pengambilan gambar untuk menilai kedua pemain di lapangan

Nah, bagaimana menurut kalian kawand? Apa udah pantas seorang Lionel Messi mengalahkan Ronaldo jadi pemain terbaik Dunia…? 😀

SUMBER : astaga.com

SEJARAH KARTU KUNING & MERAH 12/04/2010

Posted by joni prayoga in SEPAKBOLA.
Tags: , , , , , , ,
14 comments

Dalam sepakbola, tak jarang kita melihat seorang pemain dihadiahi kartu merah (bukan angpau lho…) ato karu kuning (Nah,,yang ini bukan ASKES pula,,hihihihi…). Sebenarnya kapan sieh kartu merah itu diperkenalkan kepada dunia persepakbolaan??? Jawabannya: “Kartu merah dan kuning baru diperkenalkan di Piala Dunia 1970.”


Namun, inspirasinya muncul pada Piala Dunia 1966. Pada perempat final antara tuan rumah Inggris lawan Argentina. Wasit yang memimpin pertandingan itu berasal dari Jerman, yakni Rudolf Kreitlein.

Karena melakukan pelanggaran keras, kapten Argentina, Antonio Rattin, dikeluarkan oleh Kreitlein. Namun, Rattin tak paham apa maksud wasit asal Jerman itu. Dia pun tak segera meninggalkan lapangan.

Wasit Inggris yang ikut bertugas di pertandingan itu, Kn Aston, kemudian masuk ke lapangan. Dengan sedikit modal bahasa Spanyol, dia merayu Rattin untuk meninggalkan lapangan. Sebab, wasit yang memimpin pertandingan, Rudolf Kreitlein, memutuskan begitu. Karena hanya tahu bahasa Jerman dan Inggris, ia kesulitan menjelaskan keputusannya kepada Rattin.

Karena kasus ini, Ken Aston kemudian berpikir. Harus ada komunikasi universal yang bisa langsung diketahui semua orang, ketika wasit memberi peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Sehingga, wasit tanpa harus membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tak diketahui pemain.

Suatu hari, dia berhenti di perempatan jalan. Melihat traffic light (lampu merah), dia kemudian mendapatkan ide. Kemudian dia mengusulkan agar wasit dibekali kartu kuning dan merah. Kartu kuning untuk memberi peringatan keras atau sanksi ringan kepada pemain yang melakukan pelanggaran. Sedangkan kartu merah untuk sanksi berat dan pemain yang melakukan pelanggaran berat itu harus keluar dari lapangan.

Ide itu diterima FIFA. Pada Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah untuk pertama kalinya digunakan. Ironisnya, sepanjang Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang terkena kartu merah. Hanya kartu kuning yang sempat dilayangkan. Sehingga, kartu merah tak bisa “pamer diri” di Piala Dunia 1970.

Meski ide itu datang dari wasit Inggris, namun negeri itu tak serta-merta menerapkannya di kompetisi mereka. Kartu merah dan kuning baru digunakan di kompetisi sepak bola Inggris pada 1976. Karena kemudian wasit terlalu mudah mengeluarkan kartu dan diprotes banyak pemain, maka penggunaannya sempat dihentikan pada 1981 dan 1987.

Yang menarik, ide ini diadopsi cabang olahraga hoki. Bahkan, di cabang ini menggunakan tiga warna kartu, seperti traffic light: hijau, kuning, dan merah. Hijau untuk peringatan, kuning untuk mengeluarkan pemain sementara waktu, dan merah untuk mengusir pemain secara permanen.

SUMBER : apakabardunia.com

SOERATIN, PENDIRI PSSI YANG TERLUPAKAN !!! 08/04/2010

Posted by joni prayoga in SEPAKBOLA.
Tags: , , , ,
7 comments

OLEH: Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI, Redaktur Pelaksana Majalah Sportif (1982-1983)

Ketika Kongres Sepak Bola Nasional digelar di Malang, 30-31 Maret 2010, adakah di antara peserta yang teringat kepada Maulwi Saelan (kini 84 tahun), yang berdiri di bawah mistar gawang PSSI dalam Olimpiade Melbourne pada 1956? Indonesia mampu menahan Uni Soviet pada babak perempat final dengan skor 0-0 pada pertandingan pertama, walaupun dalam pertandingan berikutnya kita dikalahkan. Sebelum meletus G-30-S tahun 1965, Saelan pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.

Adakah dalam kongres sepak bola itu disebut nama Soeratin, pendiri PSSI 80 tahun yang silam? Tokoh yang sangat berjasa dan namanya pernah diabadikan pada kejuaraan junior dengan memperebutkan Soeratin Cup itu ironisnya meninggal pada 1959 dalam kemiskinan, setelah sakit sekian lama dan tidak mampu menebus obat. Rumahnya berukuran 4 x 6 meter di Jalan Lombok, Bandung, terbuat dari gedek (dinding bambu). Tidak ada yang ditinggalkan kecuali organisasi yang dicintainya, PSSI. Itulah sebabnya Rapat Paripurna Nasional PSSI pada 2005 (Kep/09/Raparnas/XI/2005) merekomendasikan dan mengusulkannya kepada pemerintah agar Soeratin diangkat sebagai pahlawan nasional. Pertimbangannya adalah kehidupan Soeratin telah diabdikan bagi perintisan pengembangan sepak bola yang sejalan dengan penumbuhan jiwa kebangsaan di kalangan masyarakat sejak masa penjajahan Belanda.

Soeratin lahir di Yogyakarta, 17 Desember 1898, dari kalangan terpelajar. Ayahnya, R. Soesrosoegondo, guru pada Kweekschool, menulis buku Bausastra Bahasa Jawi. Istrinya, R.A. Srie Woelan, adik kandung Dr Soetomo, pendiri Budi Utomo. Tamat dari Koningen Wilhelmina School di Jakarta, Soeratin belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman, pada 1920 dan lulus sebagai insinyur sipil pada 1927.

Sekembalinya dari Eropa pada 1928, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konstruksi terkemuka milik Belanda dan membangun antara lain jembatan serta gedung di Tegal dan Bandung. Namun, pada waktu bersamaan, Soeratin mulai merintis pendirian sebuah organisasi sepak bola, yang bisa diwujudkan pada 1930.

Organisasi boleh dikatakan realisasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme itu dicoba dikembangkan melalui olahraga, khususnya sepak bola. Seperti halnya ipar Soeratin, Dr Soetomo, yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian disusul dengan pendirian Budi Utomo, Soeratin melakukan pertemuan dengan tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung. Pertemuan itu diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel Belanda (PID). Pada 19 April 1930, beberapa tokoh dari berbagai kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah “sepakraga” diganti dengan “sepakbola” dalam Kongres PSSI di Solo pada 1950. PSSI kemudian melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931, dan ada instruksi lisan yang diberikan kepada para pengurus, jika bertanding melawan klub Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi ini 11 kali berturut-turut. Setiap tahun ia terpilih kembali.

Kegiatan mengurus PSSI menyebabkan Soeratin keluar dari perusahaan Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menjajah Indonesia dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan Soeratin menjadi sangat sulit. Rumahnya diobrak-abrik Belanda. Ia aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat letnan kolonel. Setelah penyerahan kedaulatan, ia menjadi salah seorang pemimpin Djawatan Kereta Api.

Jasa-jasa
Olahraga sepak bola juga berkaitan dengan nasionalisme dan integrasi bangsa sebagaimana dikatakan Freek Colombijn (The Politics of Indonesian Football, Archipel 59, Paris, 2000). Sepak bola pada mulanya berkembang di Inggris dan merambah ke Hindia Belanda dengan berdirinya klub pertama di Surabaya pada 1895 oleh John Edgar. Di Kota Padang, klub yang pertama dibentuk adalah Padangsche Voetbal Club pada 1901. Klub yang ada di Hindia Belanda itu masih bersifat segregasi. Kelompok ras memiliki klub masing-masing yang juga bertanding sesama mereka (Eropa, Tionghoa, dan pribumi). Pada 1921, di Padang terdapat liga yang menarik bayaran dari penonton (10 sen untuk pribumi, menontonnya sambil berdiri; 20 sen untuk “bukan pribumi”; dan 50 sen mendapat kursi). Belum ada stadion yang permanen, tetapi di sekeliling lapangan dipasang bambu.
Dalam konteks perkembangan masyarakat yang terjajah, jasa Soeratin dapat diringkaskan sebagai berikut. Pertama, ia berani menggunakan label Indonesia pada organisasi yang didirikannya, bukan Hindia Belanda. Kedua, pertandingan yang dilakukan secara rutin dan periodik antarklub pribumi pada tingkat antarkota merupakan realisasi Sumpah Pemuda 1928 dan sekaligus bagian dari proses penumbuhan integrasi nasional (hal yang sama menjadi tujuan PON setelah Indonesia merdeka). Ketiga, tujuan organisasi persepakbolaan yang digagas dan direalisasi adalah mencapai kedudukan yang setara dengan orang-orang Eropa (juga Tionghoa). Untuk itu Soeratin rela berkorban. Ia keluar dari perusahaan konstruksi Belanda saat memegang posisi bagus agar dapat mengurus “sepak bola kebangsaan”. Pengangkatan Soeratin sebagai pahlawan nasional diharapkan menjadi momentum untuk membangkitkan kembali sepak bola di Tanah Air yang suatu ketika sempat membuat prestasi yang membanggakan.

Syarat administrasi
Meskipun sudah diusulkan PSSI pada 2005, Soeratin tidak kunjung diangkat menjadi pahlawan nasional. Pada 2006, saya bertemu dengan seorang sejarawan yang menjadi tim penilai pahlawan ini. Ternyata alasan penolakannya bersifat administratif. PSSI telah mengirim usulan yang konon didukung oleh Wali Kota Yogyakarta (kota kelahiran Soeratin) dan Wali Kota Bandung (domisili Soeratin di akhir hayatnya). Namun PSSI hanya mengirim buku PSSI Alat Perjuangan Bangsa dan brosur kecil Perjuangan Ir Soeratin Sosrosoegondo, yang diterbitkan dalam rangka peringatan 75 tahun PSSI pada April 2005. Tim penilai mengharapkan sebuah buku yang khusus ditulis untuk pencalonan pahlawan ini secara ilmiah. Pada 22 Juni 2006, saya menjadi pembicara dalam seminar di Senayan, Jakarta, untuk mendiskusikan peran Soeratin dalam persepakbolaan nasional. Sayangnya, PSSI tidak melampirkan makalah seminar ini beserta transkrip diskusi kepada tim penilai kepahlawanan nasional. Dalam kasus ini saja terlihat bahwa manajemen PSSI kurang beres.

Nyimak juga D I S I N I j u g a Y A ???!!! 🙂

PENDIRI vs KETUA PSSI SEKARANG : MIRIS !!! 08/04/2010

Posted by joni prayoga in SEPAKBOLA.
Tags: , , , , , ,
6 comments

Bagaimana kabar persepakbolaan Indonesia? Jangan ditanya… penggila Bola di tanah air wajar bila malu dengan prestasi Tim Garuda belakangan ini…nyaris tanpa kemajuan…dan malah menukik menurun….Yap, PSSI merupakan lembaga yang paling tepat untuk bertanggung jawab, sayang sekali ketua umum PSSI, Nurdin Halid terlalu PeDe untuk memilih bertahan disusul dengan keputusan memuakkan koloninya yang meng-IYA-kan pernyataan konyol tsb.

Berikut ada sebuah artikel panjang, padat dan mengena dari seorang penulis di detiksport.comtentang perbedaan Bapak Pendiri PSSI yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan sepakbola tanah air, Ir.Soeratin dengan Nurdin yang Gila Kekuasaan….artikel ini sayang bila kawand-kawand lewatkan….!!!

=================================================================================

Ada kontras yang tak terelakkan jika membandingkan Ketua Umum PSSI pertama, Ir. Soeratin Sosrosoegondo, dengan Ketua Umum PSSI ke-14, Nurdin Halid.

Ir. Soeratin, tokoh di balik berdirinya PSSI pada 19 April 1930, memilih kehilangan pekerjaan sebagai arsitek yang memberinya pendapatan berlimpah agar bisa secara total mengurus PSSI yang baru saja berdiri.

Ketika itu Soeratin bekerja di biro rancang bangunan bernama Boukundig Bureau Sitsen en Lausade dengan gaji sekira seribu gulden per bulan. Aktivitasnya mengurus PSSI membuat kinerjanya di kantor mengendur. Kantor yang memekerjakannya memberi dua opsi: tinggalkan PSSI atau tinggalkan pekerjaan.

Ini bukan pilihan sederhana. Meninggalkan pekerjaan bukan hanya membuat Soeratin kehilangan asupan finansial bagi diri dan keluarganya, tapi juga membuat Soeratin kehilangan pasokan dana yang sebagian di antaranya digunakan untuk menopang kegiatan-kegiatannya di PSSI karena PSSI sendiri ketika itu tak bisa diharapkan memberinya pendapatan. Soeratin bisa saja melepas jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Toh, ia masih bisa membantu PSSI dengan cara yang lain.

Tapi Soeratin memilih opsi keluar dari pekerjaannya. Baginya, membangun PSSI butuh konsentrasi besar. Masih banyak persoalan yang mesti dihadapi PSSI ketika itu, dari mulai isolasi yang dilakukan NIVB hingga membangun solidaritas bond-bond sepakbola bumiputera yang (kadang-kadang) masih saling bersaing satu sama lain. Teramat sayang jika ikhtiarnya yang susah payah dalam memelopori pendirian PSSI ditinggalkan di tengah jalan.

Fragmen bersejarah yang bisa dibaca sebagai momen eksistensial bagi manusia Soeratin di atas terasa begitu kontras dengan sikap “keras kepala” Nurdin Halid untuk terus bertahan di tampuk tertinggi kepemimpinan PSSI — sikap yang anehnya didukung dengan tidak kalah keras kepalanya oleh para pengurus PSSI dan Executive Comitte PSSI.

Kontras ini makin terasa menggelikan sewaktu membaca pernyataan Nurdin Halid ketika menjawab tuntutan agar dirinya mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI.

“Atau masalah yang saya hadapi tidak ada permintaan agar saya mundur dan saya dalam keadaan didzalimi. Untuk itu, demi harga diri saya serta demi harkat dan martabat PSSI siri’ napacce. Insya Allah dengan ridho Allah saya akan bertahan memimpin PSSI,” katanya (Kompas, 21 Februari 2008).

Jika Soeratin memilih untuk keluar dari pekerjaannya agar bisa total mengurus PSSI dengan risiko kehilangan asupan gulden yang melimpah pada zamannya, Nurdin Halid justru keukeuh untuk terus duduk di jabatannya kendati nyata-nyata ia sama sekali tak bisa memimpin roda organisasi PSSI. Alih-alih bisa memimpin PSSI dengan total, Nurdin justru lebih sering “merepotkan” PSSI karena memaksa para pengurus PSSI mesti bolak-balik ke penjara, baik untuk rapat koordinasi maupun sekadar memberi laporan.

Dalam tradisi Makasar, ‘sirri’ bukan hal sepele. Ia merujuk pada kebanggan diri, harga diri, integritas diri sebagai manusia dan laki-laki. Jika sampai ada orang menyebut “sirri”, ia hampir dipastikan sedang berada dalam kemarahan besar, merasa integritas dirinya dikoyak moyak, harga dirinya diinjak-injak.

Persoalannya, tuntutan kepada Nurdin agar mundur itu bukan persoalan pribadi. Tuntutan yang makin kuat itu muncul sebagai persoalan organisasi, dalam hal ini PSSI, organisasi yang mengatur olahraga paling merakyat di tanah air, yang pendiriannya diusahakan dengan susah payah oleh para pendirinya.

Pernyataan Nurdin itu menggelikan karena Nurdin menyamakan harga diri dan martabat pribadi dengan harga diri dan martabat PSSI, seakan-akan jika Ketua Umum PSSI merasa pribadinya dilecehkan secara otomatis PSSI sebagai organisasi juga dilecehkan harga diri dan martabatnya.

Nurdin mungkin benar bahwa PSSI sudah kehilangan harga diri dan martabatnya, tapi bukan karena Ketua Umum-nya merasa dilecehkan, tapi karena PSSI memang sudah kehilangan integritas karena kegagalannya sendiri.

Prestasi apa yang dibanggakan PSSI selama di bawah kepemimpinan Nurdin Halid? Menang lawan Bahrain tapi kemudian kalah oleh Arab Saudi dan Korea Selatan pada Piala Asia 2007? Gagal lolos semifinal SEA Games 2007? Kalah memalukkan dari Suriah dengan agregat 11-1 dalam play-off Piala Dunia 2010?

Jika Nurdin Halid butuh contoh tentang laku mertahankan harga diri dan martabat PSSI, simak saja bagaimana Soeratin dengan sikap keras membela harga diri dan martabat PSSI dalam kasus pengiriman tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 di Prancis.

Ketika itu Hindia Belanda mengirimkan tim dari Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU, organ yang merupakan metamorfosis dari NIVB) ke Prancis. Kendati sembilan pemain dalam tim itu berasal dari kalangan bumiputera dan Tionghoa, Soeratin marah bukan main karena ia menganggap NIVU melanggar “Gentlement Agreemnt” yang ditandatangani PSSI (yang diwakili Soeratin) dengan NIVU (yang diwakili Materbreok) pada 5 Januari 1937 yang menyebutkan bahwa pengiriman tim mesti didahului oleh pertandingan antara NIVU dengan PSSI. Soeratin juga menginginkan agar bendera yang digunakan tim Hindia Belanda bukan bendera NIVU.

Pelanggaran kesepakatan itu dinilai Soeratin sebagai pelecehan atas martabat PSSI. Itulah sebabnya Soeratin, atas nama PSSI, membatalkan secara sepihak semua butir kesepakatan antara PSSI dengan NIVU pada Kongres PSSI 1938 di Solo.

Pada kongres itulah Soeratin membacakan pidato berjudul “Loekisan Djiwa PSSI: Mendidik Ra’jat dengan Perantaraan Voetbalsport”, pidato yang menjadi cetak biru visi PSSI pada masa kolonial, pidato yang sepertinya tak pernah dibaca oleh Nurdin Halid dan para pengurus PSSI sekarang.

Salah satu kalimat Soeratin yang paling termasyhur –seperti diceritakan Maladi– berbunyi: “Kalau di lapangan sepakbola kita bisa mengalahkan Belanda, kelak di lapangan politik pun kita bisa mengalahkan Belanda.”

Nasionalisme dan politik pada masa itu menjadi bagian inheren dari PSSI. Jangan heran jika, misalnya, panitia kejuaraan PSSI II pada 1932 yang digelar di lapangan Laan Travelli, Batavia, nekad mengundang Soekarno untuk melakukan tendangan bola kehormatan pada partai final kejuaraan yang memertemukan VIJ (Voetball Indonesia Jcatra) melawan PSIM Yogyakarta.

Tindakan itu berkadar subversif karena Soekarno baru saja keluar dari penjara Sukamiskin di Bandung akibat aktivitasnya sebagai pemimpin Partai Nasional Indonesia.

Zaman sudah berubah. Politik memang sebaiknya tidak dibawa-bawa dalam dunia sepakbola (FIFA melarang intervensi pemerintah terhadap asosiasi sepakbola, kendati lucunya pengurus PSSI sempat membawa-bawa UU Pemilu untuk membenarkan sikap Nurdin). Tetapi, cukup jelas juga, perkara harga diri dan martabat pribadi tak bisa dibawa-bawa ke dalam urusan sepakbola dan PSSI.

Nurdin dan segenap pengurus PSSI mesti berkaca kepada apa yang sudah dicontohkan Soeratin. Saya tidak tahu apakah LP Cipinang menyediakan cermin di setiap sel tahanan atau tidak  (SUMBER: detiksport.com)

=================================================================================

“Majulah Persepakbolaan Indonesia…”

NO BEGADANG… NO BANGUN SIANG !!! 08/04/2010

Posted by joni prayoga in FARMASI & KESEHATAN.
Tags: , , , , ,
4 comments

test…test…1….2….3… lagi nggak ngebahas musik bang…ato ngebahas kehidupan pribadi bang Haji….tapi postingan kali ini ada hubungannya sama Begadang….ther..lhaa….lhuuu…” 🙂

Pada waktu-waktu tertentu, sistem tubuh kita membuang racun didalamnya. bila kita mengenali jadwalnya, kita dapat memaksimalkan pembuangan racun tersebut. Misalnya tidur terlalu malam atau bangun terlalu siang, bisa mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna, selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. sebab itu, tidurlah yang nyenyak dan jangan begadang.

nih, jadwal tubuh membuang racun:

1. jam 21.00 – 23.00 malam hari adalah waktu pembuangan zat-zat yang tidak berguna/beracun (detoxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). selama durasi waktu ini, kita harus dalam suasana tenang atau mendengarkan musik. jangan sibuk bekerja di waktu-waktu ini.

2. jam 23.00 – 01.00 dinihari terjadi proses detoxin dibagian hati yang berlangsung dalam kondisi tidur pulas.

3. jam 01.00 – 03.00 dinihari proses detoxin dibagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.

4. jam 03.00 – 05.00 dini hari terjadi detoxin dibagian paru-paru, sebab itu akan terjadi batuk selama durasi waktu ini. karena proses pembersihan (detoxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar tidak merintangi proses pembuangan kotoran.

5. pagi pukul 05.00 – 07.00 detoxin dibagian usus besar, harus buang air, jangan ditahan-tahan, kawand!

6. pukul 07.00 – 09.00 pagi : waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, jadi harus makan pagi ato sarapan.
bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pukul 06.30
makan pagi sebelum pukul 07.30 sangat baik untuk kesehatan.

Jadi….jangan begadang….ato bangun kesiangan kawand… !!! 😀

(Sumber : kaskus.us)