jump to navigation

Sejarah dan Kontroversi SUMPIT 23/08/2010

Posted by joni prayoga in ISENG tak BERHADIAH.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Di dunia ini, ada banyak jenis alat yang digunakan orang untuk membantu menikmati makanan. Ada yang pakai sendok dan garpu, ada juga dengan garpu dan pisau, ada yang pakai Shinta dan Jojo..Lho??? ada yang bertelanjang tangan dan ada juga dengan menggunakan Sumpit. Apaan sih Sumpit?? (Bukan ‘Sumpriiit’ lho???)

Sumpit dan Sejarahnya
Sumpit merupakan alat bantu makan yang umumnya terbuat dari bilah bambu sepanjang kira-kira 25 cm. Bagian ujung sumpit berbentuk lingkaran berdjameter sekitar 0,5 cm. Bentuk seperti ini dimaksudkan agar orang mudah menjepit makanan.


Sumpit dikenal di Cina sekitar 5.000 tahun lalu, namun baru dimasyarakatkan sejak zaman dinasti Shang (1766 -1122 SM). Digunakannya sumpit bermula dari kebiasaan orang memasak di zaman dulu. Untuk mengaduk makanan yang diolah dalam sebuah kuali besar, mereka menggunakan ranting pohon yang bercabang dua. Lama-kelamaan, berhubung populasi penduduk makin meningkat, maka makanan itu dipotong kecil-kecil. Sehingga alat pemegang dan pengaduknya pun berupa bilah-bilah yang lebih kecil. Sumpit Cina disebut kuai-zi. Biasanya memiliki panjang 22 -26 cm dengan bangian atas berbentuk segiempat berujung tumpul. Sekitar tahun 500 sumpit digunakan secara luas di Cina, menyebar ke Vietnam, Korea, dan Jepang.
Di Jepang sumpit digunakan pada upacara keagamaan untuk menjepit makanan. Sumpit itu dibuat dari satu batang bambu yang bagian atasnya masih menyatu. Baru pada abad ke-10 dibuat dari dua bilah batang yang terpisah. Rancangan sumpit Jepang agak berbeda dengan Cina. Bagian atas sumpit Jepang agak bulat dan meruncing pada ujungnya. Ukurannya pun lebih pendek dari sumpit Cina. Bahkan ada aturan sendiri untuk memakainya, berdasarkan jenis kelamin. Sumpit untuk wanita berukuran sekitar 17,5 cm dan untuk pria sekitar 20 cm. Secara tradisional, sumpit terbuat dari berjenis-jenis baban. Bambu merupakan bahan yang paling populer karena berbagai pertimbangan, seperti harga murah, tersedia di mana-mana, mudah dibentuk, tahan panas, dan tidak mengubah rasa makanan. Bahan lainnya kayu cedar, cendana, jati, cemara, dan tulang. Bahkan orang kaya membuat sumpit dari batu giok, emas, perak, perunggu, kuningan, batu akik, batu koral, atau gading gajah. Pada masa pemerintahan para dinasti di Cina, sumpit berbahan perak banyak digunakan. orang purba percaya bahwa perak akan berubah warna jika bersinggungan dengan makanan beracun. Jadi, ini merupakan langkah kewaspadaan yang dilakukan para bangsawan Cina tempo dulu untuk menghindari usaha pembunuhan dari para pengkhianat atau lawan politik. Penggunaan sumpit secara luas tidak lepas dari peranan Konfusius (551 -479 SM). Sebagai seorang vegetarian, makan dengan pisau di atas meja sebagaimana orang Barat akan mengingatkan orang pada rumah jagal hewan. Maka dia menganjurkan orang agar menggunakan sumpit saja.Di Cina sumpit tidak sekadar alat bersantap, tapi mengandung nilai, etiket, dan filosofi.
Banyak pakar menilai, pemakai sumpit akan memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Bahkan sumpit dianggap sebagai perlambang kesetaraan, keharmonisan, dan persatuan. Sepasang sumpit harus setara, sama tingginya. Kalau tidak, akan pincang sehingga menyulitkan orang saat mengambil makanan. Gerak sumpit harus harmonis. Bagaimana jadinya jika sebuah sumpit digerakkan ke depan, satunya lagi ke belakang? Tentu makanan tidak akan terjepit. Sepasang sumpit pun harus bersatu. Tidak mungkin orang hanya menggunakan sebuah sumpit ketika mengambil makanan. Jika bersatu, barulah orang dapat leluasa mengambil makanan.

Kontroversi Sumpit di Cina
Akan tetapi dewasa ini Pemerintah Cina rupanya sudah gencar mengampanyekan pelarangan sumpit sekali pakai yang terbuat dari bambu dan kayu karena dinilai merusak lingkungan. China telah berkali-kali mengalami banjir besar dan tanah longsor. Soal sumpit ini menjadi urusan Kementerian Perdagangan China bersama dengan enam kementerian lainnya. Perusahaan yang masih memproduksi sumpit sekali pakai akan mendapatkan hambatan dan larangan dari pemerintah setempat.


Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,3 miliar jiwa, China setiap tahun membuang 45 miliar pasang sumpit atau sekitar 130 juta pasang sumpit per hari. Pegiat lingkungan, Greenpeace China, memperkirakan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, harus tersedia 100 are lahan pohon bambu yang harus diperbarui setiap 24 jam. Bayangkan saja, hutan yang lebih luas dari lapangan Tiananmen atau setara 100 lapangan sepak bola harus dikorbankan setiap hari hanya untuk menyediakan sumpit
Penggundulan hutan merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi Pemerintah China saat ini. Pemerintah telah meluncurkan kampanye ”Bawa Sendiri Sumpitmu”. Namun, tampaknya sungguh sulit menghilangkan kebiasaan menggunakan sumpit sekali pakai ini antara lain karena lebih murah dibandingkan biaya pencucian untuk sumpit besi atau plastik yang dapat digunakan berulang kali.

Wow…ternyata gede banget ya dampak penggunaan sumpit ya kawand…?

Mari bersama-sama selamatkan Bumi kita😀

SUMBER:

http://spagiari.blogspot.com
http://www.strov.co.cc

Komentar»

1. salmantabir - 23/08/2010

masih mending orang Indonesia ya…
sumpitnya sepuluh buah dan selalu ada di mana saja..

joni prayoga - 26/08/2010

salmantabir : wah kok 10buah y? hehe

2. adisuseno - 25/08/2010

ngomong2 sumpit, orang indonesia banyk gak yang pake sumpit??

joni prayoga - 26/08/2010

adisuseno : banyak juga bro,,, bahkan biasanya pedagang mie ayam ato lumpia basah biasanya ngasi sumpit sekali pakai jg,,fiuhhh,, kasian banget ya alam kita??

3. koeshariatmo - 01/09/2010

lah bener kata salmantabir, mending pake sumpit 10 jari..5 jari juga cukup kok..bener ta’

joni prayoga - 07/09/2010

koeshariatmo = haha.. saya mengerti🙂 sumpit jari gitu lo😀

4. Tomy Meilando - 02/09/2010

Gambar paling atas bikin pusing kepala bro hehe..saya lebih suka pake sendok bro kalo makan, nah kalo makan nasi padang ya pake tangan lebih afdol,hehe

joni prayoga - 07/09/2010

tomy = hehe, saya gak pusing tuh, tiba2 celana agak sempit aja wkwkwk
tul betul..pake tangan memang lebih nikmat,,kerasa daki tangannya haha😀

5. subliansyah - 08/09/2010

Kunjungan balik bro. Selain sulit kalo makan sup, sumpit merusak hutan dan ekologi, mending seperti kami di Kalimantan, makan pake tangan kosong, cepat selesai, cepat kenyang….

joni prayoga - 10/09/2010

subliansyah = setuju bro…😀

6. kabarpantailabuhanbatu - 20/11/2010

salam kenal, bagus tulisannya, tapi gambarnya bikin pening kepala…

joni prayoga - 25/11/2010

kabarpantailabuhanbatu: wkwkwkwk kwnapa pening gan?santai saja🙂

7. selimut - 13/06/2015

sampe skrng ngga paham apa enaknya makan pake sumpit..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: